Skip to main content

Ketika Saatnya- Resensi Buku MIWF

Ketika Saatnya- Resensi Buku MIWF

ketika saatnya

Cinta selalu kalah saat berhadapan takdir dan adat,” (Halaman 44).

Salah satu petikan dalam buku kumpulan cerita pendek (Kumcer) karya Darmawati Majid, berjudul Ketika Saatnya ini, memuat beragam cerita, baik berupa mitos, pendidikan, agama, juga yang paling menonjol adalah sorotan tentang budaya di Sulawesi Selatan, khususnya perihal uang panaik (semacam mahar), juga adat terkait Passampo Siri’ (Penutup aib keluarga). Di sisi lain, Darmawati juga menyisipkan bahwa adat memiliki dua sisi yang memiliki dampak berbeda.

Beberapa cerita, yang ingin saya bahas adalah sub judul Losari dan Passampo Siri’. Kedua cerita ini saling berkaitan.

Losari menceritakan dari tokoh lelaki, yakni Anto dan Passapo Siri’ menceritakan dari tokoh perempuannya, Andi Ida.

Pada kisah Losari, Anto sang tokoh diceritakan sebagai seorang nelayan, yang bertemu dengan pujaan hatinya Andi Ida saat menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Sebagai seorang yang paham tentang Kapal Phinisi, Anto menjadi narasumber untuk mahasiswa KKN, yang di dalamnya ada Andi Ida. Meski awalnya Andi Ida selalu menghindari Anto, lantaran menganggap lelaki itu adalah idola banyak orang. Namun, perasaan Andi Ida tertambat pada Anto tatkala kecelakaan laut yang membuatnya nyaris tewas tenggalam, saat berenang di pantai, Bulukumba, kemudian ditolong oleh Anto. 

Keduanya pun menjalin hubungan, hingga pada saat Anto hendak melamar, diberikan syarat uang panaik sebesar Rp150 juta. Anto yang hanya bekerja sebagai seorang nelayan, dengan pendapatan yang tidak seberapa, tetapi cinta yang tulus pada Andi Ida, membuatnya harus mengganti usaha lainnya. Berangkatlah dia ke Batu Licin, bekerja di tambang batu bara. Setidaknya, penghasilan di sana lebih menjanjikan dan lebih cepat untuk menjadikannya uang panaik seperti yang diminta keluarga Andi Ida. 

“Cinta selalu kalah saat berhadapan dengan takdir dan adat,”cinta adalah segalanya, cinta pada lelakinya bukan apa-apa.

Sementara pada Passampo Siri’, Andi Ida menceritakan, dirinya harus mengganti adiknya Andi Ira yang memilih kawin lari dengan pria pilihan, sementara undangan pernikahan dengan Andi Baso sudah disebar. Sehingga Andi Ida lah yang harus menjadi Passampo Siri’. “Bagaimana janji Bapak sama Anto? Bukankah lelaki Bugis pantang mengingkari janji yang sudah diucapkan?”

Lagi-lagi masih menyoroti soal uang panaik, Darmawati memberi judul salah saatu cerpen berjudul sama. Uang Panaik. Sang tokoh Dr. Hj. Andi Darauleng, M.Pd, membuat dia  harus dihadapkan oleh adat dengan tiga gelar sekaligus. Andi Darauleng harus dipisahkan oleh adat dengan sang kekasih yang melamarnya, Abimanyu. Abimanyu tidak sanggup memenuhi uang panaik yang diminta keluarga besar Andi Darauleng. “Apakah karena Ambo tokoh masyarakat yang sangat dihargai di kampung ini, sehingga merasa gengsi menikahkan anak perempuan semta wayangnya dengan uang panaik rendah?”

Meski di satu sisi, Andi Darauleng tidak bisa menampik kenyataan bahwa adat itu pula yang membuat gadis-gadis dari Selatan, lebih bersahaja dibanding gadis di belahan bumi lain. Siri’ na pace yang dipegang teguh membuat mereka dituntut menjaga kehormatan keluarga. Hanya pemuda yang betul-betul meghargai adat, harga diri dan martabat itulahyang sanggup menikahi mereka. Siri’ na pace mengemuka dalam diskusi panjang tentang uang panaik. Apalagi, anak kepala kampung sebelah mendapatkan uang panaik Rp300 juta.

Sementara kisah sentral Ketika Saatnya, Darmawati lebih menceritakan tentang tokoh perempuan menghadapi gejolak rumah tangganya, termasuk juga menyelipkan soal adat dan kehidupan di tengah-tengah masyarakat pada umumnya, yang coba disuarakan para tokoh.

Selain dari sub judul di atas, masih ada judul-judul lain juga menarik, tentu saja. Darmawati mampu membuat alur cerita meski singkat, tetapi sarat makna dan pesan, yang membuat saya khususnya, dapat menikmati alur cerita yang dalam dan menyentuh ini. 

Judul: Ketika Saatnya
Penulis: Darmawati Wajid
Desainer: Aditya Putra
Penata Letak: Teguh Tri Erdyan
Penyunting: Udji Kayang
Penerbit: KPG
Terbit Pertama: April 2019
ISBN: 978-602-481-139-6